2 Fakta Menarik di Pabrik Toyota Karawang

RAJAMOBIL.COM, Jakarta – Indonesia layak bangga atas apa yang dilakukan PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN) di pabrik barunya di Karawang, Jawa Barat. Di pabrik mesin terbaru Toyota itu, ada dua fakta yang belum banyak diketahui publik.

Bukan hanya nilai investasi yang mencapai sekitar Rp2,3 triliun atau soal kapasitas produksi yang mencapai 216.000 unit mesin per tahun, tapi soal kepercayaan yang diberikan Toyota Motor Corporation kepada TMMIN.

Menurut Toyota, melalui keterangan resminya, pabrik baru di Karawang menjadi pabrik pertama Toyota di luar Jepang yang menerapkan teknologi anyar demi mengejar efisiensi. Apa saja?

Salah satu teknologi anyar yang dipakai di pabrik Karawang adalah on-site smelting. Artinya, logam campuran (alloy) yang sudah dilelehkan sebelum masuk ke mesin cetakan, harus diambil dari lokasi yang jauh dari mesin cetak. Tapi sekarang proses pelelehan alloy sudah dilakukan di lokasi yang sama dengan proses pencetakan komponen mesin.

Modifikasi yang dilakukan pada sumber panas itu dan juga beberapa perubahan yang lain, membuat ukuran tungku pemanas alloy dapat dipangkas. Dan yang terpenting, proses pemanasan dan pelelehan alloy sekarang tersambung langsung ke mesin pencetak.

Jika sebelumnya metode on-site smelting ini dilakukan untuk komponen mesin berukuran kecil, sekarang sudah diadopsi untuk komponen mesin berukuran besar, seperti mesin. Dan proses ini adalah yang pertama di pabrik Toyota di luar Jepang.

Metode anyar lainnya yang diterapkan di pabrik Karawang adalah Inorganic Sand Core Binder.  Core merupakan alat yang diletakkan di mesin pencetak untuk menciptakan rongga-rongga di dalam cetakan dalam proses akhir pencetakan komponen atau mesin. Pada saat lelehan alloy dituang ke mesin pencetak dan kemudian mengeras dalam prosesnya, cores untuk membuat rongga tadi akan rusak dengan sendirinya.

Cores dengan zat aditif organik biasanya dipakai selama proses pencetakan. Namun demikian, menggunakan cores dengan aditif organik menghasilkan partikel tar, yaitu kotoran yang berasal dari proses pembakaran, dan juga menghasilkan bau menyengat.

Untuk itu dibutuhkan alat penangkap debu berukuran besar dan penghilang bau untuk menghilangkan hasil pembakaran itu. Dengan berkurangnya volume partikel hasil pembakaran, maka alat penangkap debu dan kotoran itu pun menjadi lebih ringkas ukurannya, sehingga lebih menghemat tempat.

Selain itu juga dapat mengurangi risiko kebakaran serta akan lebih mudah dalam proses pembersihan, dan secara keseluruhan dapat meningkatkan standar keselamatan. Implementasi dari pembakaran dengan suhu rendah dan proses pengerjaan yang lebih singkat serta pembakaran efisiensi tinggi di pabrik ini akan memberikan kontribusi yang sangat signifikan terhadap penurunan penggunaan energi dalam proses produksi. [yog]

BAGAIMANA MENURUT ANDA ?

Please enter your comment!
Please enter your name here